“Aduh, panas juga. Kok mirip Bekasi?” Itulah kesan pertama saya datang ke kota ini. Tidak seperti Jakarta yang mempunyai kemiripan cuaca dengan Pontianak, kota yang terkenal dengan sebutan Kota Seribu Parit ini, tidak mempunyai seribu atau lebih area untuk pejalan kaki. Pertanyaan tentang pejalan kaki pernah saya utarakan kepada kawan saya. Jawabannya adalah karena panas, tidak akan banyak orang yang berjalan kaki. Kondisi ini menyebabkan penyediaan fasilitas umum untuk pejalan kaki yang tidak begitu banyak. Yang ada pun tidak terlalu digunakan dengan efektif. Ya itu tadi karena hampir tidak ada orang yang rela berpanas-panas dengan berjalan kaki. Semua orang pasti berkendara baik motor maupun mobil. Jika dipandang dari konsep kehidupan kota seperti ini, maka Pontianak dapat dikatakan tidak berpihak pada pejalan kaki.
Kisah pejalan kaki
Selama hampir tiga tahun saya dan kedua kawan saya berjalan kaki dari rumah menuju kantor, banyak suka duka yang kami alami. Terutama dukanya, dari diklakson oleh mobil yang tidak sabar menunggu kami yang berjalan lambat sampai ada yang hampir menyerempet tidak jarang kami alami. Memang benar kami berjalan dijalur yang dilalui kendaraan. Hal tersebut kami lakukan karena memang tidak ada trotoar atau ruang untuk pejalan kaki. Aktifitas jalan kaki kami pilih karena tidak adanya akses transportasi dari rumah kemanapun tempat yang ingin kami tuju. Selain sekalian olah raga, jalan kaki juga pilihan bagi saya yang tidak punya kendaraan dan trauma dalam berkendara di kotaPontianak.
Selain kisah kami, banyak lagi kisah pejalan kaki yang tidak diperlakukan sopan oleh pengendara. Salah satunya adalah kisah yang disampaikan oleh kawan saya saat ibunya ditabrak oleh sebuah motor ketika beliau menyeberang jalan di depan sebuah kantor di jalan Ahmad Yani. Akibat kecelakaan tersebut, si ibu mengalami patah tulang di bagian tangan dan kakinya. Alhamdulillah, sekarang beliau telah sembuh setelah lebih dari lima bulan melewati masa pengobatan dan terapi berjalan. Memang benar beliau menyebrang tidak pada tempatnya karena memang tidak ada tempat untuk menyeberang. Sejauh pengamatan saya, memang tidak begitu banyak bahkan hampir tidak ada zebra cross atau tempat penyeberangan untuk pejalan kaki di kotaPontianak. Baik di jalan utama seperti jalan Ahmad Yani maupun jalan-jalan di setiap sudut kota, penyeberang harus mempunyai ‘keahlian khusus’ dalam menyeberang. Mengapa saya katakan keahlian khusus? Saya katakan demikian karena toleransi pengendara yang sangat kurang. Kebanyakan pengendara tidak mau menghentikan atau setidaknya memperlambat laju kendaraannya saat ada orang di depannya yang menyeberang. Dengan demikian, penyeberang jalan harus mempunyai strategi bagaimana menyeberang dengan selamat. Seperti di depan jalan Media yang berseberangan dengan jalan Perdana. Bisa diperkirakan, aktifitas orang menyeberang di daerah tersebut sungguh tinggi sehingga sewajarnya pengendara sudah tahu dan mengerti kondisi tersebut. Namun, tetap saja ketika menyeberang saya bisa rasakan bahwa mereka tidak mau mengalah dan menganggap orang yang menyeberang adalah pengganggu mulusnya laju kendaraan mereka. Sungguh tidak adil.
Tidak ada salahnya berjalan kaki.
Namun tidak demikian di Pontianak. Seperti pernyataan kawan-kawan saya yang sudah lama tinggal di Pontianak, “Orang Pontianak itu kalau tidak punya kendaraan seperti tidak punya kaki.” Mendengar hal tersebut, saya pun tertawa. Jika demikian, saya termasuk orang yang tidak punya kaki. Namun pernyataan kawan saya yang lain cukup membesarkan hati saya. Kawan saya itu iri dengan saya dan kedua kawan saya karena dia tidak mempunyai waktu untuk berjalan kaki. Dia memperhatikan kami yang selalu sehat dan bugar dalam menjalankan aktifitas keseharian kami.
Kebanyakan orang Pontianak melakukan aktifitas yang seharusnya bisa dilakukan dengan berjalan kaki, dilakukan dengan menggunakan kendaraan. Pergi ke suatu tempat dengan jarak 100-200 meter saja harus menggunakan kendaraan. Berdasarkan penelitian pakar-pakar kesehatan Amerika Serikat, berjalan kaki sangat banyak manfaatnya, baik dilakukan dalam aktifitas sehari-hari maupun olah raga. Berjalan kaki baik untuk jantung, mengurangi risiko kanker payudara, membuat tidur lebih nyenyak, membuat bahagia, mengurangi rasa sakit atau nyeri, membuat langsing, awet muda, dan mengurangi keropos tulang. Oleh karena itu, kita disarankan untuk berjalan kaki minimal sepuluh ribu langkah setiap hari. Selain sehat, berjalan kaki juga mampu mengurangi polusi udara yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor.
Harapan di ulang tahun yang ke-238
Pemerintah kota diharapkan sejenak mengalihkan pandangan pada fasilitas-fasilitas kota yang berhubungan dengan masalah lintasan khusus untuk pejalan kaki, baik trotoar, zebra cross, maupun lampu lalu lintas. Bukan hanya untuk sarana olahraga, tetapi juga untuk aktifitas sehari-hari seperti pergi bekerja, berbelanja, maupun jalan-jalan santai. Sebenarnya, jika pemerintah kota mau menyediakan fasilitas-fasilitas umum untuk pejalan kaki walaupun sedikit tetapi efektif dalam penggunaannya dan perawatannya, kemungkinan buruk tidak akan terjadi. Selain itu, perlu adanya imbauan tentang toleransi para pengendara kepada pejalan kaki mengingat keselamatan pejalan kaki adalah hal utama bagi pengendara.
Pembatasan jalur kendaraan roda empat dan roda dua sudah dilakukan oleh pihak kepolisian yang berwenang dalam mengatur lalu lintas kota, terutama di jalan utama Ahmad Yani. Hal tersebut sungguh membantu pejalan kaki ketika menyeberang jalan yang luar biasa luasnya. Jika diukur, luasnya mungkin mampu menampung 4 sampai 5 mobil yang disusun dari satu sisi jalan ke sisi yang lainnya. Namun, tetap saja program kepolisian ini tidak diikuti dengan kesadaran yang penuh oleh pengendara khususnya pengendara motor. Suatu ketika saya akan menyeberang, tiba-tiba ada sebuah motor yang mengambil jalur mobil yang saya lihat tadi sudah kosong. Spontan saya urungkan niat saya untuk menyeberang dan berdiri terpaku sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat motor tadi. Oh, Tuhan.
Selain itu, fasilitas zebra cross dan lampu lalu lintas juga harus ditingkatkan lagi penyediaan dan penggunaannya. Di satu sudut kota, ada satu persimpangan empat jalan yang tidak dilengkapi zebra cross dan lampu lalu lintas. Dua sisi masih memiliki lampu lalu lintas yang berdiri tegak dan berfungsi baik sedangkan dua sisi lainnya tidak ada lampu sama sekali. Hasilnya, kekacauan tidak dapat dihindari. Hal seperti ini membuat saya miris melihatnya. Padahal untuk tata kota yang baik, fasilitas-fasilitas umum yang bertujuan untuk keselamatan dan kenyamanan pengguna jalan harus menjadi perhatian utama pemerintah kota.
Mudah-mudahan pemerintah kotaPontianak mau mendengar keluhan-keluhan masyarakatnya. Apalagi dalam rangka pesta ulang tahun kotaPontianak yang ke-238, yang berarti sedang bersenang-senang merayakan pertambahan umur, kotaPontianak juga harus semakin dewasa dan bijaksana dalam menyikapi permasalahan yang terjadi. Selain itu, kotaPontianak harus semakin bersemangat dalam berbenah diri dan mempercantik wajah kota sebagai ikon dan ibukota provinsi Kalimantan Barat. Dirgahayu Kota Pontianak! Dirgahayu kotaku! Jayalah selalu!
*Artikel ini diterbitkan di Surat Kabar lokal Borneo Tribune dalam Edisi Khusus menyambut hari Ulang Tahun ke-238 Kota Pontianak
Bapakku terus menancap gas dan selalu mencari celah untuk terus mendahului kendaraan lain. Kecepatan tinggipun tak segan-segan bapakku capai. Posisi jalur cepat selalu diambil walaupun sekali-kali mencari dimanapun ada celah kosong lainnya jika terjadi kemacetan di jalur cepat. “Tin..tin..tin,” klakson mobil berbunyi setiap bapak harus mendahului kendaraan lain dan itu seringkali terjadi sepanjang perjalanan. Mama yang duduk di sebelah bapak panik dan selalu berkomentar tentang semrawut kondisi jalan. Bapak yang sejak tadi fokus di belakang setir pun ikut tegang dan panik.
Siang itu, keluargaku sedang mengantarku ke bandara Soekarno-Hatta. Aku harus kembali ke Pontianak tanggal 28 Februari. Aku tidak bisa mengulur waktu pulkamku karena tanggal 1 Maret harus kembali bekerja. Biasanya, cukup waktu dua jam untuk jarak tempuh sekitar 30 km dari daerah Ciputat ke bandara lewat jalur belakang yakni rute BSD (Bumi Serpong Damai) Tangerang. Selain bukan jalan utama yakni rute Ciputat-Bandara melalui Semanggi, jalur BSD biasanya jarang sekali macet. BSD termasuk jalan alternatif ke bandara Soekarno-Hatta dan termasuk jalur lingkar luar Jakarta bagian Barat. BSD termasuk dalam wilayah Kabupaten Tangerang yang berbatasan dengan wilayah Jakarta Barat. Di sepanjang jalan yang aku lewati, banyak sekali pabrik-pabrik dan perumahan rakyat elit. Memang benar, Tangerang terkenal dengan BSD-nya karena merupakan perumahan rakyat elit yang terbesar di Tangerang. Perumahan di wilayah lain yang sekelas BSD seperti Pantai Indah Kapuk, Pondok Indah, Bintaro dan Kelapa Gading merupakan perumahan elit yang menyediakan beragam fasilitas kehidupan. Bagaikan mendirikan sebuah negara di dalam sebuah negara. Masyarakat yang tinggal di perumahan-perumahan tersebut merasa bangga jika disebut sebagai warga BSD, Pondok Indah atau Kelapa Gading. Rasa bangga itupun menular kepada masyarakat yang tinggal di sekitar perumahan-perumahan tersebut. Sampai ada satu singkatan yang menurut saya lucu sampai sekarang. Paman saya yang tinggal di sekitar Jurangmangu misalnya akan menyebutkan BSD jika ia ditanya dimana ia tinggal. Bukan Bumi Serpong Damai melainkan “Bintaro Sonoan Dikit.”
Entah mengapa hari itu lebih dari sepuluh titik kemacetan yang terhitung dari Ciputat sampai tempat tujuan. Waktu dua jam sungguh-sungguh tidak cukup. Kami sekeluarga seperti dikejar badai, diburu waktu dan diterjang kepanikan.
“Aduh, pake macet lagi. Tuh mobil ngapain sih. Pelan banget,” Mamaku benar-benar panik.
“Mamah berisik banget sih. Udah mamah diem ajah.”
“Kenapa si, Pah. Mamah ngomong kok gak boleh?”
“Bukan gak boleh. Papah kan udah usaha. Mamah bikin Papah panik ajah. Dah mamah gak usah beli rambutan ajah.”
“Loh kok jadi ngomongin rambutan. Emang siapa yang bilang jadi beli rambutan. Kan, udah Mamah bilang di rumah tadi, kalo sempet beli kalo ga ya udah.”
“Bapak kira Mamah tetep mo maksain beli rambutan.”
“Udah diem.”
Tidak lama, rombongan kendaraan di depan kami berjalan perlahan.
“Aduh, di depan jalannya rusak lagi.”
“Kenapa Papah lewat sini?”
“Ya lewat sini kan langsung ke BSD, Mah. Terus gampang lewat belakang bandara. Justru ini jalan yang paling deket dan cepet.”
Ketegangan yang dirasakan orangtuaku semakin menambah urat keteganganku meninggi. Gelisah yang sejak kami berangkat dari rumah tadi bisa kutekan, kini semakin meninggi. Panas dingin mulai merasuki sekujur tubuhku. Kepalaku mulai terasa pusing. Disusul dengan rasa mual dari dalam perutku karena aku sudah menahan buang air kecil selama kurang lebih satu jam perjalanan. Rasa pusing di kepala dan mual di perutku membuat mukaku semakin pucat. Itu yang dikatakan adikku, Yani, ketika ia memperhatikanku. Ia duduk disebelahku. Di sebelahnya, Puji, adik iparku memegang anaknya, Ezra yang sedang sibuk meloncat-loncat di atas pangkuan ibunya. Ezra, keponakanku yang pertama,baru saja berulangtahun yang pertama pada tanggal 22 Januari lalu. Aku bersyukur karena kepulanganku kali ini bertepatan dengan peristiwa penting untuk keponakanku tersayang. Aku bisa menghadiri acara ulang tahunnya, mencium pipinya dan mengatakan, “Selamat ulang tahun, nangnung. Ini kado dari bude, sayang.” Tawa dan segala tingkah lucunya tidak membuatku bisa melupakan rasa tegang yang tetap merasuki tubuh dan otakku.
Setelah memasuki BSD hatiku mulai tenang karena kupikir akan tidak menemukan kemacetan lagi. Namun, tetap saja. Di dalam komplek besar itupun tetap macet dan macet.
“Sekarang jam berapa, Nit?”
“Udah jam 12, Pak.”
“Mudah-mudahan bisa ke kejar deh sampe jam 1. Jangan lupa doa, Nit.”
“Iya, Pak.”
Sambil menjawab pertanyaan Bapak, perasaanku semakin tegang. Ngantuk tapi tidak bisa tidur. Rasa pusingku makin menjadi. Entah sepucat apa mukaku waktu itu. Aku harus sampai di bandara jam satu untuk check-in. Pesawatku berangkat tepat jam 2. Namun, perjalanan yang masih harus aku tempuh sekitar 15 km lagi. Mungkin cukup waktu jika memang tidak ada macet lagi. Kenyataan berkata lain. Titik kemacetan terjadi terutama ketika kami melintasi lampu merah, pasar dan mal. Suasana kami yang tadinya penuh canda dan tawa berubah menjadi kesunyian dan ketegangan. Ezra pun ikut lelah dan tertidur di pangkuan ibunya.
“Lain kali jangan dipasin lah kalo mo ke bandara.”
“Papah sih. Pake kekeuh mo jalan jam 11.”
“Iya. Aku emang salah terus.”
“Udah, Pak..Mah. Tenang..tenang.” Padahal aku sendiri tidak tenang.
Akhirnya, kendaraan kami memasuki pintu gerbang bandara Soekarno-Hatta. Waktu hampir mencapai jam setengah 2. Dengan panik, bapakku langsung atur apa yang harus aku lakukan setibanya di terminal keberangkatan nanti.
“Nanti, kamu langsung ambil troli ya. Nanti, bapak turunin barang kamu. Semua turun trus Bapak parkirin mobil.”
“Papah, gak usah parkir mobil. Kita cuma sebentar ini turunnya.”
“Gak usah Mah. Semua gak usah turun. Bapak aja yang keluarin barang. Nita juga gak usah ambil troli. Nita langsung aja masuk bawa barangnya.”
Perdebatan pun berakhir dengan keputusanku. Aku masuk dengan tergopoh-gopoh membawa barang dengan total sekitar 15 kg di tangan kanan dan kiriku. Di dalam terminal sepi. Semua penumpang sudah boarding. Aku termasuk dalam daftar penumpang yang sedang ditunggu. Rasa pusing dan mual sudah hilang karena keteganganku sudah mencapai anti klimaks. Sampai di ruang tunggu, ternyata aku disuruh bergabung dengan sekelompok penumpang yang sedang menunggu bis penjemput yang akan mengantar kami ke lokasi pesawat. Agak tenang, ternyata tidak cuma aku yang terlambat. Kira-kira ada 10 orang. Phew…aku menyeka keringatku. Aku belum ketinggalan pesawatku. Sampai di dalam pesawat, aku langsung mencari kursiku dan tidak berani menatap wajah-wajah penumpang lain yang mungkin kesal karena sudah menunggu kami begitu lama. Setelah menemukan tempat dudukku dan menaruh barang di dalam bagasi, hal yang pertama aku harus lakukan adalah …TOILET!.....
Peristiwa itu berawal ketika aku sedang berada di pelataran belakang rumah kos, tempat tinggalku di Pontianak. Pak Soleh, pemilik rumah kos, mendesain pelataran belakang rumahnya yang luas untuk kebun, tempat jemuran dan tempat cuci piring khusus untuk anak-anak kosnya. Menurut beliau, tujuan membangun eksterior rumah seperti itu agar dapat digunakan anak-anak kos untuk bercengkrama sambil mengerjakan aktivitasnya masing-masing di tempat itu. Selain menyediakan kamar kos untuk perempuan, Pak Soleh juga menyediakan kamar kos untuk laki-laki dengan lantai yang terpisah. Lantai satu berisi kamar-kamar untuk perempuan dan lantai dua untuk laki-laki. Di Pontianak, banyak sekali bentuk kos-kosan yang campur seperti ini. Namun, tidak sedikit pula yang menyediakan kamar kos khusus perempuan atau laki-laki. Seperti di kota-kota lainnya di Indonesia, penghuni-penghuni kamar kos berasal dari luar daerah sebagai mahasiswa atau pekerja seperti aku.
Suatu sore yang cerah, ketika aku sedang memilih pakaian yang sudah kering dan mengatur kembali pakaian yang belum kering agar bisa dijemur kembali besok pagi, seorang teman kos ku datang dan menyapaku.
“Hai, Kak. Angkat jemuran ke?”
“Iya. Lumayan hampir semua pakaianku kering. Ma, sore ini cerah. Enaknya ngapain yah?”
Temanku menjawab, “Kalau kamek biasanya jalan-jalan keliling Pontianak ramai-ramai, sama anak-anak kos yang lain, Kak.”
“Wah seru yah. Tapi aku nggak bisa pake motor.”
“Oh, tenang jak. Kakak bisa sama Irma.”
Lalu datang lagi kawan lainnya. Sambil membawa satu ember pakaian kotor dan satu botol bekas air mineral yang disulap menjadi tempat menyimpan detergen, Wandi ikut bicara.
“Memang Teteh mao jalan-jalan kah?”
Wandi yang berasal dari Cianjur, sudah lama tinggal di Pontianak dan menjadi penghuni kos yang paling lama, sepertinya memberikan tawaran.
“Ah, nggak lah. Aku nggak mo ngerepotin. Kalau kalian memang mao jalan-jalan, baru aku mao ikut.”
Tiba-tiba, dari dalam kos, temanku yang sama-sama dari Jakarta berteriak.
“Eh, pada mao jalan-jalan yeh? Gue ikut dong.”
Kami terdiam sejenak. Aku langsung menjawab.
“Nggak kok. Cuma ngobrol aja.”
Temanku itu, Egi namanya, tetap ingin jalan-jalan dengan memaksa Irma dan Wandi untuk mengantarnya.
“Eh, beneran nih. Gue mao ke Sungai Jawi. Kata temen kantor gue kalo mao cari barang-barang kelontongan di sana murah.”
“Mmh, gak tau yah. Irma jarang beli sih.”
“Ayo dong. Wandi, ayo anter gue. Gue butuh banget nih. Kan gue baru pindah jadi belom punya apa-apa.”
Wandi tidak begitu merespon positif rengekan Egi, “Waduh Teh, kalo saya mah gak bisa. Saya masuk malem. Ini aja mao rendam pakaian, mandi, terus berangkat kerja. Kapan-kapan aja ya Teh.”
Setelah itu, Wandi pun masuk kamar mandi.
Baik aku maupun Irma diam sejenak. Kami tidak tahu harus memulai pembicaraan kembali dari mana. Aku meneruskan memilih pakaian yang sudah kering. Keheningan sejenak itupun terpecah oleh panggilan Egi kepadaku.
“Nit, anterin gue yuk.”
Sontak aku kaget, “Hah, mao kesono pake apa, Ci. Sungai Jawi jauh, kan? Emang ada angkot yang kesono?”
“Katanya sih jauh. Tapi gak apa-apa deh. Kita pinjem motor bapak.”
“Emang lo bisa, Ci? Terus terang gue si gak bisa. Jadi gue cuma nemenin lo aja yeh.”
“Masak sih lo gak bisa?”
“Bisa sih tapi cuma di sekitar komplek aja. Kalo ke jalan besar, nggak deh. Gue takut.”
“Ah, gak apa-apa. Lo pasti bisa. Sekalian lo belajar. Gue si bisa tapi gue masih lemes banget nih. Gue kan abis sakit. Gimana, Nit? Temenin gue yeh.”
Jantungku mendadak dag dig dug berulang kali. Tapi, kata-kata Egi bener juga. Kalo gak belajar sekarang kapan lagi. Lagian, katanya Sungai Jawi itu lurus aja jalannya kalo dari arah jalan Sutoyo.
“Iya deh.”
“Asyik. Siap-siap yeh. Ntar gue deh yang bilang ke bapak.”
Kami pun berangkat mengendarai motor pinjaman dari bapak kos. Motor Yamaha keluaran tahun lama yang sudah tidak bagus lagi tampilannya tapi cukup bisa berjalan. Cuma suaranya saja yang nggak nahan. Berisik banget. Apalagi kalo mau belok, pasti bunyi alarmnya juga berisik.
Dari rumah, aku menjalankan motor itu dengan aman-aman saja. Saat belok keluar gang pun aku lakukan dengan mulus walaupun jantungku masih menari. Masuk jalan yang agak lebih besar dan melewati pertigaan pun masih bisa aku lakukan dengan mulus bin lancar. Aku mulai tenang dan sudah bisa berkendara sambil mengobrol plus ketawa-tawa dengan Egi.
Eng ing eng…jreng…nah loh. Saat motor keluar dari jalan Karya Baru menujupertigaan Purnama, jantungku mulai bergerak lagi. Gerakannya seperti tepukan tari tari Saman, gerakan pelan berubah menjadi gerakan yang cepat sekali. Waduh, gimana nih. Semua pelajaran singkat yang diajari Irma sebelum berangkat tadi, tidak ada satupun yang diingat. Aku mulai panik. Waduh, gimana nih. Ah pede aja ah.
Pada saat itu kondisi jalanan memang sedang ramai. Dari arah jalan Purnama, rombongan mobil dan motor sedang menunggu datangnya rombongan kendaraan dari arah jalan Sumatera. Ada beberapa detik ketika jarak lumayan lebar di antara satu mobil dengan mobil lainnya terbuka di hadapanku. Kesempatan itulah yang aku gunakan untuk menerobos melewati kendaraan-kendaraan yang ada di kanan dan kiriku. Tanpa menoleh dan terus terfokus pada jarak kosong tadi, tanpa menginjak rem, aku terus tancap gas yang sejak dari rumah sampai ke pertigaan aku terus lakukan.
Walaupun takut, aku tetap percaya diri bahwa aku bisa melewati ruang kosong dan terus berjalan ke arah jalan Sumatera. Ternyata, perasaan itu membawa kesalahan besar. Aku kaget ketika setelah melewati sebuah mobil, ada rombongan motor yang maju kearahku. Spontan aku langsung injak rem. Ternyata posisi motorku tidak pas saat melewati mobil. Hasil dari dua kejadian itu, ban belakang motor menyenggol trotoar yang ada ditengah jalan. Motor pun jatuh ke arah kanan. Gerakan yang keras dan tiba-tiba membuat pedal rem bengkok dan kaca lampu depan pecah karena membentur trotoar tadi. Egi pun marah besar.
“Gimana sih, lo? Gue kira lo bakalan berenti dulu. Namanya pertigaan, kudu berenti dulu baru jalan kalo dah kosong. Untung lo gak terus ngegas. Kalo iya, gue bisa mental ke seberang. Bisa kelindes mobil. Mati deh gue.”
Sambil terus ngomel, aku mendorong sekuat tenaga motor yang nggak bisa jalan karena terganjal pedal yang bengkok. Aku hanya bisa terus menertawai kebodohanku dan berusaha menenangkan diri untuk bisa berfikir jernih.
“Maap, Ci. Tenang aja. Kita cari bengkel. Bentar, gue balikin dulu ni pedalnya. Nanti gue yang dorong deh. Gue deh yang bayar. Gue juga deh yang bilang ke bapak.”
“Ya udah! Bikin dia bisa jalan dulu! Bengkelnya jauh. Sini, gue aja yang bawa. Kaki gue sakit nih tapi terpaksa deh daripada gue celaka lagi.”
Akhirnya, kami meneruskan perjalanan. Egi terus cemberut sampai kami pulang. Waktu hampir menjelang magrib ketika kami sampai di rumah dengan selamat. Alhamdulillah.
Itulah pengalaman berharga yang harus aku ambil untuk bisa bertahan hidup di Kalimantan. Bayangan tentang Kalimantan, ketika aku masih di Jakarta, yang banyak hutan dan panas memang benar adanya. Saking luas dan hawa panas yang menyengat, setiap orang yang aku jumpai di jalan pasti sedang mengendarai kuda besinya. Dari anak usia Sekolah Dasar sampai orang usia lanjut, baik perempuan maupun laki-laki, semua mampu berkendara. Minimal motor atau sepeda harus dimiliki karena orang tak akan mampu dan sudi mandi keringat oleh sinar matahari dan jauhnya perjalanan. Lebih ekstrim lagi, “Kalo nda ada motor seperti nda punya kaki”, seperti yang aku kutip dari “pepatah” teman kantorku. Bahkan sering aku lihat, banyak wanita karir yang biasa mengenakan sepatu hak tinggi dan lancip mahir sekali mengendarai motor berkopling. Wah, hebat! Sungguh pemandangan yang tidak biasa aku lihat di tanah kelahiranku, Jakarta.
Saat peristiwa di pertigaan Purnama itu terjadi, aku baru sebulan tinggal di Pontianak. Aku belum punya banyak kawan sehingga, sebagai pendatang, hanya berjalan kaki yang bisa dan harus aku lakukan. Bukan hanya karena tidak punya motor, mengendarainya saja aku belum bisa. Maklum, fasilitas kendaraan yang dimiliki Jakarta telah bertahun-tahun membuaiku untuk tidak perlu belajar mengendarai motor. Peristiwa itu membuat trauma berkepanjangan bagi aku untuk belajar mengendarai motor lagi. Jika tidak diantar kawan, aku tetap berjalan kaki ke kantor sejauh lebih dari satu kilometer baik pergi maupun pulang. Aktivitas itu tetap aku jalani selama lebih dari dua tahun, yakni dari tahun 2006 sampai sekarang.
Saya bekerja sebagai tenaga teknis atau peneliti (untuk saat ini masih sebagai calon peneliti) di Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Barat. Sebagai calon peneliti, saya terus mengembangkan ide saya melalui tulisan dan bacaan yang informatif dengan tujuan pembelajaran untuk saya dan juga pembaca. Urun rembug tentang informasi positif dapat Anda tindaklanjuti melalui pos-el edinita_978@yahoo.com atau akira_220208@yahoo.com