Showing posts with label bahasa Indonesia. Show all posts
Showing posts with label bahasa Indonesia. Show all posts

Sunday, October 25, 2009

Kekuatan Sertifikat*

Yusnita Achmad, S.Pd.

Seorang narasumber bercerita kepada saya ketika beliau mengisi acara dalam satu kegiatan di Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Barat. Beliau bertanya kepada peserta tentang tujuan mengikuti kegiatan tersebut, mayoritas jawabannya adalah ingin mendapatkan sertifikat. Walaupun tujuan lain seperti mendapat ilmu dan memperluas jaring pertemanan. Saya percaya jawaban tersebut akan diamini oleh seluruh pegawai fungsional di seluruh instansi pemerintah di Indonesia.
Apa sebenarnya kekuatan yang terkandung dalam sertifikat? Mengapa secarik kertas dapat dinamakan sertifikat? Apakah setiap tanda bukti disebut sertifikat? Jika ditelaah dari sudut pandang bahasa, kata sertifikat mempunyai arti tanda atau surat keterangan (pernyataan) tertulis atau tercetak dari orang yang berwenang yang dapat digunakan sebagai bukti pemilikan atau suatu kejadian. Pihak yang mengeluarkan sertifikat merupakan pihak yang berwenang seperti instansi pemerintah maupun swasta. Sertifikat berbentuk surat secara tertulis sehingga dapat dijadikan bukti fisik atas suatu kejadian yang abstrak. Oleh karena ada bukti fisik, legalitas suatu pernyataan tidak dapat dipungkiri.
Sertifikat juga dapat menembus ruang dan waktu. Suatu kejadian yang terjadi di masa lampau dapat didokumentasikan dalam sertifikat, contohnya sertifikat kelahiran. Menurut KBBI, sertifikat kelahiran adalah surat bukti kelahiran yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang. Rakyat biasa sampai orang nomor satu di Indonesia pasti mempunyai sertifikat kelahiran. Selain sertifikat kelahiran, ada juga sertifikat tanah yakni surat bukti pemilikan tanah yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang. Seseorang yang mempunyai sertifikat atas kepemilikan tanah akan kuat posisinya di mata hukum, jika ia terjebak dalam kasus sengketa tanah.
Kekuatan sertifikat, sebenarnya tanpa disadari telah terjadi dari zaman dahulu, misalnya pada saat mempertimbangkan data pelamar kerja. Seorang manajer personalia akan lebih mempertimbangkan pelamar yang melampirkan lembaran sertifikat sebagai jaminan bahwa si pelamar terbukti mempunyai kemampuan yang diperlukan.
Berkaitan dengan pegawai fungsional, berikut adalah contoh sertifikat-sertifikat penting karena dikeluarkan oleh instansi-instansi berwenang di bidangnya. Sertifikat yang dikeluarkan oleh LIPI sangat penting bagi seorang peneliti sebagai bukti kemampuan meneliti. Sertifikat yang dikeluarkan oleh Depdiknas, berdasarkan penilaian pada proses sertifikasi guru, sangat berguna bagi seorang guru sebagai bukti kemampuan mengajar. Sertifikat yang dikeluarkan oleh Pustekkom, Seamolec atau UT sangat bernilai bagi guru maupun penulis sebagai bukti kemampuan menulis modul pembelajaran jarak jauh, baik secara cetak maupun multimedia berbasis Information Communication Technology (ICT) atau pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi.
Sejak pemerintah menetapkan program sertifikasi untuk pegawai fungsional seperti guru, dosen dan peneliti, sertifikat merupakan satu di antara dokumen penting yang sangat diperhitungkan mampu menambah nilai untuk mendapatkan tunjangan yang cukup menggiurkan. Oleh karena itu, kegiatan seperti seminar, workshop, atau pelatihan, yang memberikan sertifikat akan selalu diminati dan diburu, walaupun judul kegiatan yang menarik juga memegang peran penting.
Berdasarkan penjelasan di atas, simpulannya adalah sertifikat dapat digunakan sebagai dokumen penting yang bernilai tinggi bagi orang yang memilikinya.

*Artikel ini diterbitkan di Pontianak Post pada tanggal 11 Oktober 2009

Friday, February 20, 2009

Belajar Kosakata

Oleh Yusnita Achmad, S.Pd.


Kosakata atau vocabulary merupakan satu di antara unsur bahasa yang biasa kita gunakan dalam berkomunikasi. Kita tidak mampu untuk menghafalnya satu per satu baik bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris karena jumlahnya sangat banyak. Tercatat jumlah kosakata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi Keempat yang disusun Pusat Bahasa mencapai lebih dari 90.000 kosakata.1 Namun, ada satu cara yang cukup mudah dalam memahami kosakata, yaitu dari kata dasar. Kita dapat memahami makna kata dari kata dasar tersebut. Artikel ini akan membahas kata bahasa Indonesia yang berhubungan dengan dunia pendidikan yakni kata ajar sebagai satu di antara kata yang mempunyai banyak bentuk turunan. Berikut contohnya.

Menurut KBBI, kata ajar berarti petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui (diturut). Dari kata ajar ini, kita mengenal beberapa kata turunan yakni ajaran, pelajar, pelajaran, terpelajar, pengajar, pengajaran, belajar, pembelajar, pembelajaran, pemelajaran.

Untuk memudahkan kita memahami dan menghafal, kita harus menentukan satu kata sebagai patokan untuk menghubungkan kata lainnya. Misalnya, kata ajar dapat kita jadikan patokan untuk dihubungkan dengan kata ajaran yang artinya segala sesuatu yang diajarkan, nasihat, petuah, petunjuk. Contoh dalam kalimat: Ia senantiasa memegang teguh ajaran orang tuanya.

Kata pelajar—yang mempunyai arti anak sekolah (terutama pada sekolah dasar dan sekolah lanjutan), anak didik, murid atau siswa—dapat kita hubungkan dengan kata pelajaran yang mempunyai arti sesuatu yang dipelajari oleh pelajar atau diajarkan kepada pelajar di sekolah. Contohnya pelajaran bahasa Indonesia; daftar pelajaran. Demikian juga dengan kata terpelajar yang artinya seseorang yang telah mendapat pelajaran di sekolah.

Jika ada pelajar, maka ada pengajar yakni orang yang mengajar (seperti guru, pelatih). Proses yang dilakukan oleh pengajar dalam mengajar atau mengajarkan sesuatu dinamakan pengajaran. Contohnya Sekarang ini, pengajaran Bahasa Indonesia sudah banyak menggunakan media televisi.

Kata berikutnya adalah kata belajar. Kata ini mempunyai arti umum sebagai kegiatan berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu. Contohnya: Adik belajar membaca. Kalimat ini mengandung arti Adik sedang berusaha memperoleh kepandaian membaca. Oleh karena itu, adik disebut sebagai pembelajar yakni orang yang mempelajari ilmu membaca. Proses atau cara belajar membaca yang dilakukan adik disebut dengan pembelajaran. Namun, perkembangan istilah-istilah dalam dunia pendidikan sangat berperan di dalam perubahan penggunaan kata pembelajar dan pembelajaran ini. Kata pemelajar diartikan sama dengan orang yang mempelajari sesuatu ilmu, yakni siswa atau murid di dalam proses pemelajaran. Sedangkan kata pembelajar diartikan sama dengan pengajar atau orang yang membelajarkan ilmu kepada pemelajar di dalam proses pembelajaran atau pengajaran. Perhatikan contoh berikut: Dalam proses belajar dan membelajarkan terdapat tiga unsur, yaitu pemelajar (orang yang belajar), pembelajar (orang yang membelajarkan), dan bahan pelajaran.2

Ada contoh lain yang menempatkan kata ajar dalam istilah pendidikan. Istilah bahan pelajaran diartikan sebagai informasi yang disusun secara sistematis dengan metode tertentu dalam suatu bidang ilmu, disajikan dan dikemas dalam bentuk media cetak maupun noncetak yang dijadikan sebagai sumber informasi dalam belajar atau pembelajaran oleh pemelajar dan pembelajar untuk mencapai suatu tujuan belajar atau pembelajaran.

Setelah membaca artikel ini, Anda telah menambah kurang lebih enam belas kata yang berhubungan dengan dunia pendidikan dalam perbendaharaan kosakata bahasa Indonesia. Mudah-mudahan pengetahuan Anda akan bertambah dengan mengaplikasikan cara belajar yang sama dengan kosakata yang berbeda. Semoga berhasil!

Sumber:

1. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Edisi Keempat, Cetakan Pertama, 2008.

2. Penyusunan Buku Pelajaran, B.P. Sitepu, 2006.

Sunday, September 14, 2008

Konsistensi Berbahasa

Fenomena penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang terjadi di masyarakat sekarang ini sungguh beragam. Mulai dari pencampuradukan penggunaan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia yang digunakan di media massa, di papan reklame maupun nama tempat usaha sampai pada penggunaan kosakata bahasa Inggris tanpa padanan bahasa Indonesianya. Perhatikan contoh berikut.

(1) Pencampuradukan kosakata bahasa Inggris dengan bahasa Indonesia pada papan reklame yang berbunyi “Discount Spesial untuk Pemegang Kartu, Kenali Merchant Kami”. Kata discount sebaiknya diganti dengan kata diskon dan kata merchant diganti dengan kata produk. Pesan pada papan reklame tersebut menjadi “Diskon Spesial untuk Pemegang Kartu. Kenali Produk Kami.”

(2) Pencampuradukan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia dalam satu kata. Sering kita temukan istilah mendownload atau diupload. Sebaliknya, dalam prinsip konsistensi kita menggunakan istilah bahasa Indonesianya. Kata download dipadankan menjadi unduh dan kata upload dipadankan menjadi unggah. Kedua istilah tersebut menjadi mengunduh dan diunggah.

(3) Penggunaan bahasa Inggris di dalam media cetak yang terkadang dalam menggunakan bahasa Inggris tanpa mencantumkan padanan bahasa Indonesianya. Seperti dikutip dari Kompas (tanggal 27 Mei 2008, halaman 36), kata platform dalam kalimat “Pagi buta itu dari sebuah platform beratap sirap di tengah hutan saya menyaksikan keajaiban berupa seekor burung cantik….”. Kata platform mungkin sudah umum tetapi sebaiknya disertai dengan padanan bahasa Indonesianya yakni panggung yang ditulis di dalam kurung setelah kata platform.

Penggunaan bahasa yang kurang tepat hendaknya menjadi pusat perhatian kita karena bagian dari proses pembelajaran masyarakat. Kita diharapkan tidak boleh melakukan kesalahan berbahasa. Apabila kita melakukan kesalahan berbahasa, masyarakat akan mudah meniru kesalahan berbahasa tersebut. Walaupun kita kritis tetapi tidak mengungkapkannya, kesalahan tersebut tetap tertanam dalam pikiran masyarakat. Apalagi kita tidak bisa menolak pengaruh besar dari globalisasi yang mulai menenggelamkan keberadaan bahasa Indonesia. Pernah tercatat dalam data Pusat Bahasa bahwa dari 220 juta jiwa penduduk Indonesia saat ini, hanya sekitar 18,7 persen atau sebanyak 32,607 juta jiwa sebagai pemakai bahasa Indonesia. (www.kompas.com, 16 November 2007). Walaupun demikian, kuncinya tetap pada konsistensi kita dalam menggunakan bahasa apapun sesuai dengan fungsinya—bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi, bahasa Inggris sebagai bahasa pergaulan internasional, dan bahasa Daerah sebagai bahasa ibu.

Sejurus dengan semangat 100 tahun kebangkitan nasional, kita harus lebih menguatkan jati diri sebagai bangsa Indonesia yang berbahasa satu, bahasa Indonesia. Kita harus bangga terhadap apa yang kita miliki. Jangan sampai kita baru sadar setelah milik kita diambil orang lain. Hidup bangsa dan negara Indonesia! Merdeka!